Dua Puluh Empat

Gadis usianya tepat dua puluh empat hari itu.

Langit merah muda pukul delapan pagi di Calgary sama manisnya seperti subuh-subuh yang lalu. Begitu pula turun salju yang tipis mengendap di trotoar pagi itu, selazim Desember yang dulu-dulu. Dinginnya cukup menggebu, tapi tidak terlalu menjadikan beku. Dipacunya langkah menuju terminal kereta, mengejar rutinitas sebelum esok tiba Sabtu.

Di pikirannya hanya satu: ingin segera menyambut akhir minggu. Mencoba resep ikan salmon baru, menelepon satu-dua kawan lama yang kini dipisah benua, atau mungkin menyortir foto-foto perjalanan beberapa pekan silam ke Peru. Intinya, dua hari tanpa dijejal tensi atas pekerjaan, dan paras-paras yang membuat jam-jam di kantor terasa melambat, tegang, dan kaku. Nah, yang kedua itu yang membuat ia paling enggan berlarut-larut di kubikel tanpa sekat itu.

Sudah hampir dua tahun gadis disini. Senyum dan getir, tawa dan isak, semuanya sudah khatam ia lakoni. Beratus cerita yang sebagian ia tulis pada kartu pos yang dikirimnya pada si jantung hati, hari ke hari, berupa-rupa kisah dan alurnya, namun satu yang tak kunjung berganti: dunia gadis kebanyakan sepi.

Gadis merapikan jilbabnya di depan kaca kamar mandi kantor, hari itu bermotif garis hitam-putih. Perempuan berambut pirang masuk, ikut juga menggunakan wastafel di sudut kiri. Kemudian perempuan berkulit seputih gading berambut secoklat kayu jati. Gadis niatkan dan panjatkan doa memulai hari. Satu kali siklus lagi yang mesti dilewati. Canggung sudah pasti hadir lagi, belum lagi beban kerjaan yang selalu berjajal rapi. Tanpa henti. Begitu selalu setiap hari, sampai habis kontraknya tahun depan bulan Juni.

Sudah hampir dua tahun, masih segan dirasanya setiap pintu ruang kerja dimasuki. Satu ruangan berisi meja persegi panjang di tengah ruangan, dan yang mengelilinginya adalah komputer-komputer yang menghadap dinding. Gadis lebih nyaman bekerja di salah satu komputer tersebut, supaya tak perlu dihiraunya kolega-kolega yang gemar berbincang di meja belakangnya saban hari. Terkadang mereka berbaik hati mencoba melempar sepatah-dua patah basa-basi pada gadis supaya turut serta berbagi opini, tapi sayang gadis memang pendiam dan jarang berbunyi. Dalam hati, diam-diam gadis berdoa, supaya tak dianggapnya ia tinggi hati. Sumpah mati tak ada niat, hanya memang gadis penyakitnya rendah diri. Gadis yang lain sendiri, sebuah fakta yang dihidupinya setiap detik di kota ini.

Gadis selalu bertanya pula, salahkah ia? Bila yang dilakoninya hanya sebatas memerankan dirinya. Yang berbeda, yang tidak dimengerti mereka. Yang berbeda dunia dengan pria-wanita di ruangan itu selainnya. Sesulit inikah memang jalannya?


Gadis usianya dua puluh empat genap. Maka ia berharap. Tuhan, bisakah Kau jadikan aku tidak melulu senyap? Perkenankan aku keluar dari gelap. Tuhan, semestaku penuh asap, mataku sudah bosan sembap. Dalam perangkap, lidahku gagap. Tuhan, lama sekali aku tersekap. Mohon berikan dekap. 

2 thoughts on “Dua Puluh Empat

  1. Ada banyak orang dengan kisah yang sama dengan Gadis di luar sana. Mereka membutuhkan perhatian dari orang skitarnya supaya tidak membuatnya bertambah minder

Leave a Reply